




Namirahbatam.or.id
Program KAjian Subuh (KAS) Namirah Bersama Kyai Zulfa Mawardi Al Hafidz (Pengasuh Rumah Tahfidz Namirah)
Nabi Musa dan Tasbih Sang Ulat
Assalamu’alaikum wr wb
Alhamdulillah, Bersyukur kepada Allah SWT atas segala Nikmat dan Karunia-NYA, Sholawat teriring salam semoga senantiasa tercurahlimpahkan kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW, semoga kelak kita semua mendapatkan syafaatnya di akhirat kelak, aamiiin Yaa Rabbal Alamin.
Jamaah Masjid Namirah yang dimuliakan Allah SWT, Dalam Tafsir Marah Labid, Syekh Nawawi Banten mengisahkan bahwa Nabi Musa ‘alaihissalām suatu kali hatinya terpaut kuat pada keluarganya. Ia cemas, takut akan keselamatan mereka. Maka Allah SWT menegur lembut sang Nabi dengan perintah: “Pukulkan tongkatmu ke batu.” Musa pun memukul batu itu. Sekali, dua kali, tiga kali. Hingga batu itu terbelah dan keluarlah seekor ulat kecil hidup dan mulutnya sedang mengunyah makanan di dalam gelap batu. Allah SWT menyingkap pendengaran Musa hingga beliau mendengar ulat itu bertasbih:
سُبْحَانَ مَنْ يَرَانِي، وَيَسْمَعُ كَلَامِي، وَيَعْرِفُ مَكَانِي، وَيَذْكُرُنِي وَلَا يَنْسَانِي Artinya: ’’Mahasuci Dzat
yang melihatku, mendengar suaraku, mengetahui tempatku, mengingatku, dan tidak pernah melupakanku.’’
Betapa besar pelajaran dari seekor ulat. Allah SWT ingin mengajari Nabi-Nya bahwa jika seekor ulat di dalam batu lapisan keempat saja diberi rezeki dan dijaga oleh Allah SWT, maka bagaimana mungkin keluarga seorang Nabi akan dibiarkan tanpa penjagaan?
Dari kacamata sufistik, para ulama sufi seperti Al-Qusyairi, Al-Ghazali, dan Ibnu ‘Ajibah menjelaskan, Tongkat adalah simbol ikhtiar manusia. Batu simbol hati yang keras oleh dunia. Ulat kecil adalah roh yang lembut dan berzikir di dalam hati.
Ketika hati keras, Allah SWT perintahkan untuk “dipukul” dengan ujian dan dzikir, agar dari situ lahir kehidupan rohani yang sejati.
Imam Al-Ghazali menulis dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn: “Jika Allah SWT tidak pernah melupakan ulat dalam batu, maka bagaimana Dia akan melupakan hati yang selalu mengingat-Nya?.”
Jamaah Masjid Namirah yang dimuliakan Allah SWT Pesan untuk kita semua, saudara-saudaraku kaum muslimin wal muslimat.
“Kita hidup di zaman yang penuh keresahan: harga naik, pekerjaan sulit, keluarga diuji. Banyak di antara kita menjadi “Musa yang cemas,” padahal Allah SWT ingin kita menjadi “ulat yang yakin.’’
“Barang siapa yakin kepada Allah SWT, maka hilanglah seluruh cemasnya, sebab rezekinya dijamin oleh Tuhan yang tidak pernah lupa.” Maka, mari kita pupuk keyakinan dan tawakkal. Tenangkan hati kita dengan dzikir. Jika dunia keras seperti batu, maka ketuklah dengan tongkat sabar dan doa, agar dari dalamnya keluar kehidupan dan ketenangan.
Sebagaimana firman Allah ta‘ala: وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ Artinya: “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS At-Ṭalāq: 3)
Demikian semoga Kajian Subuh yang singkat ini bermanfaat, kita tutup dengan do’a Kafaratul Majelis
“Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik” (Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu)
Wassalamu’alaikum wr wb
Editor
MSN


