Senin 26 Januari 2026
spot_img
BerandaBlogJangan Remehkan Kebaikan Sekecil Apapun

Jangan Remehkan Kebaikan Sekecil Apapun

Namirahbatam.or.id

Jangan Remehkan Kebaikan Sekecil Apapun

Rasulullah saw mengabarkan bahwa keimanan itu ada banyak cabang atau bukti. Cabang yang tertinggi adalah kalimah thayyibah; Lailahaillallah, sedangkan cabang yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan. Tidak jarang kita lebih memperhatikan amal yang besar dan membiarkan amal kecil. Padahal, amal kecil seperti menyingkirkan duri jalanan, selama didasari keimanan, akan menjadi bukti keimanan itu sendiri bahkan dapat mengantarkan kepada ridha dan ampunan Allah SWT.

Rasulullah SAW mengabarkan kepada kita semua bahwa keimanan itu memiliki tujuh puluh cabang atau bukti. Cabang yang tertinggi adalah kalimat tauhid, yaitu Lâilâhaillallâh, sedangkan bagian terendah adalah menyingkirkan duri di jalanan. Hal itu sejalan dengan sabdanya:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

Artinya, “Iman itu lebih dari 70 atau 60 cabang. Cabang paling utama adalah perkataan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu itu termasuk cabang dari iman.” (HR Muslim)

Kaitan dengan cabang atau bukti iman yang terendah, Nabi saw. sudah mengisahkan, ada seorang pria yang dimasukkan Allah ke dalam surga-Nya karena telah menyingkirkan sebuah dahan berduri di jalan yang biasa dilalui banyak orang. Hadits yang mengisahkannya adalah sebagai berikut:
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

Artinya: “Saat seorang pria sedang berjalan, tiba-tiba ia mendapati sebuah dahan berduri yang menghalangi jalan. Kemudian ia menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya,” (HR. Ahmad).

Pada redaksi yang lain, disebutkan:

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ، فَقَالَ: وَاللهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

Artinya, “Dikisahkan ada seorang pria melewati dahan sebuah pohon di badan jalan. Ia lantas berkata, ‘Demi Allah, aku akan menyingkirkan dahan ini agar tidak menghalangi kaum Muslimin. Berkat amal itu, ia dimasukkan ke surga,” (HR. Muslim).

Dua hadits di atas mengisahkan kepada kita bahwa seorang pria mendapati dahan berduri di jalan yang menghalangi diri dan pengguna jalan lain. Ia kemudian segera memotong dahan tersebut dan menyingkirkannya dari badan jalan. Tujuannya agar tidak membahayakan orang-orang yang melintas, terutama sesama muslim. Maka Allah pun mengampuni dosa-dosanya dan memasukkannya ke dalam surga. Berkat amalnya itu, Rasulullah saw. melihatnya sedang mendapatkan kenikmatan di dalam surga.

Dari kisah di atas, kita mengetahui bahwa pria itu hanya mengerjakan amal kecil, namun dibalas Allah dengan balasan besar nan istimewa. Sungguh besar dan luasnya rahmat serta karunia Allah. Pantas Rasululullah saw. selalu mengingatkan, “Singkirkanlah duri dari jalan kaum Muslimin.”

Di sisi lain, beliau juga memperingatkan kita agar jangan pernah mengganggu apalagi mencelakakan sesama muslim, sebagaimana yang terungkap dalam hadits berikut:

مَنْ ضَارَّ ، ضَارَّ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ شَاقَّ ، شَقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ

Artinya, “Siapa saja yang membahayakan (orang lain), maka Allah akan menimpakan bahaya padanya. Siapa saja yang menyusahkan orang lain, maka Allah akan menimpakan kesusahan padanya.” (HR. Abu Dawud).

Dan masih banyak lagi kisah dan riwayat serupa yang berbicara soal ini, seperti halnya kisah yang dialami oleh Sahabat Umar bin Khathab yang meraih rida Allah karena melepaskan burung dari tangan anak-anak. Kemudian, kisah Imam al-Ghazali yang meraih rida Allah karena menyayangi seekor lalat yang menghisap tinta yang akan dituliskannya. Bahkan, ada pula kisah seorang wanita sundal yang berhasil mendapat ampunan Allah karena amalnya memberi minum kucing yang tengah kehausan. Dan masih banyak lagi kisah lainnya.

Intinya, semua menunjukkan betapa mulianya kaum Muslimin yang mengamalkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan selama didasari oleh keimanan kepada Allah. Sehingga sudah sepantasnya, kita selalu menebar kebaikan walaupun itu kecil. Ingatlah bahwa sekecil apa pun amal kebaikan kita, akan tampak terlihat kelak di hadapan Allah, sebagaimana termaktub dalam surat az-Zalzalah ayat 7-8.

Alih-alih mengganggu dan menyusahkan orang lain, kita sudah saatnya banyak mempermudah orang lain. Alih-alih mengotori dan merusak jalan, maka sebaiknya kita menjaga kebersihannya. Sebab, itulah yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Dari uraian dan kisah hadits di atas dapat ditarik sejumlah pelajaran penting, antara lain adalah:

Bagian atau bukti tertinggi keimanan adalah mengikrarkan kalimat tauhid Lailahaillallah, sedangkan bagian terendah adalah menyingkirkan duri atau gangguan di jalan.
Betapa besarnya keutamaan amal baik walau hanya menyingkirkan sebuah duri di jalanan.
Betapa luasnya rahmat Allah. Betapa agungnya balasan dari-Nya. Dia telah memberikan balasan surga kepada seorang hamba-Nya yang takwa dan selalu berbuat kebaikan. Sekecil apapun amal kebaikan itu.
Orang yang kurang peduli dengan kebersihan jalan, bisa menjadi ciri lemahnya internalisasi dan implementasi nilai-nilai agama.
Pohon yang mengganggu boleh ditebang, dipotong, atau dirapikan. Sementara pohon yang memberikan manfaat, seperti pohon rindang dan menjadi pelindung, sebaiknya dipelihara.
Jangan bertindak semena-mena terhadap alam dan tumbuhan. Sebab, dampak buruknya akan kembali kepada manusia itu sendiri, seperti bencana longsor, banjir, dan susah air bersih di musim kemarau.
Orang yang semena-mena menebang pohon yang berguna juga diperingatkan Rasulullah saw. dalam haditsnya, “Orang yang memotong sebuah pohon, yang dengannya Allah melindungi kepalanya, maka ia akan berada dalam siksa api neraka.” (HR. al-Baihaqi).
Jangan pernah menyepelekan kebaikan, sekecil apa pun, baik kepada sesama muslim, sesama manusia, maupun sesama makhluk Allah. Sebab, Allah tidak melihat kecilnya seorang hamba selama amal yang dilakukannya didasari keimanan. Lagi pula, rida Allah itu dirahasiakan, bisa saja ada pada amal besar bisa juga amal kecil. Lebih jelasnya, dapat dilihat kitab Al-Qashash an-Nabawi, karya Umar Sulaiman, Terbitan Darun-Nafais, halaman 241.

Semoga kita senantiasa diberi kemudahan untuk menunaikan amal yang dapat mengundang ridha dan ampunan Allah swt. Amin ya robbal alamin.

Editor
MSN

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular