Rabu 23 September 2026
spot_img
BerandaBlogPUTRA ASLI CILACAP MAKHSUN ARIF HIDAYAT BERJUANG MENGAYUH SEPEDA SEJAUH 1600 KM...

PUTRA ASLI CILACAP MAKHSUN ARIF HIDAYAT BERJUANG MENGAYUH SEPEDA SEJAUH 1600 KM DARI MUSI RAWAS PALEMBANG KE TAMBAK BERAS JOMBANG DEMI MUKTAMAR NU KE 35

 

Namirahbatam.or id

Putra Asli Cilacap, Makhsun Arif Hidayat Mengayuh Sepeda 1600km dari Musi Rawas Palembang menuju Tambak Beras Jombang, demi hadiri Muktamar NU ke 35

Semangatnya barangkali sulit ditandingi kebanyakan orang seusianya. Makhsun Arif Hidayat, pria berumur 56 tahun, gowes menempuh jarak sekitar 1.600 kilometer dengan mengayuh sepeda hanya demi bisa hadir di Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Perjalanan panjang itu dimulai dari Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Butuh waktu sekitar dua minggu baginya untuk akhirnya tiba di Kota Santri.

Perjuangan yang Berbuah Syukur
Saat ditemui Tugu Jatim pada Jumat (21/08/2026), pria yang akrab disapa Ndan Arif itu tak henti mengucap rasa syukur. Baginya, kondisi fisik yang masih prima di usia sekarang adalah anugerah tersendiri.

“Tentunya saya merasa bersyukur kepada Allah SWT bahwa saya di usia saya yang sudah 56 tahun ini masih diberi kesehatan secara fisik untuk bisa ikut serta sebagai penggembira Muktamar NU di Jombang ini,” ungkapnya.

Jauh sebelum kisah kayuh sepedanya viral, Ndan Arif sejatinya adalah Putra Asli Cilacap, Jawa Tengah. Jejak hidupnya kemudian membawanya merantau ke Pekanbaru, Riau, tempat dia menghabiskan sekitar 13 tahun sebelum akhirnya berpindah ke Musi Rawas Utara.

“Entah apa sebabnya, tiba-tiba saya bisa sampai di Musi Rawas Utara,” katanya.

Di masa awal merantau itu, keempat anaknya, tiga laki-laki dan satu perempuan, belum lagi menempuh pendidikan formal. Kini keadaan sudah jauh berbeda.

“Yang terakhir perempuan dan kebetulan sekarang proses magang kerja di Kalimantan Barat selepas kuliah. Alhamdulillah mendapatkan beasiswa,” tuturnya bangga.

Soal pekerjaan, Ndan Arif tak pernah memilih-milih. Berbekal kemampuan dasar sebagai tukang, dia menjalani hari-hari dengan bekerja serabutan, mulai dari mencangkul hingga mendorong angkong kelapa sawit.

“Apa pun pekerjaan yang memang bisa dan mampu, saya tidak pernah yang namanya pilih-pilih,” tegasnya.

Bukan Muktamar NU Pertama, Ini Panggilan Batin
Menariknya, hasrat Ndan Arif terhadap Muktamar NU bukan baru kali ini saja. Pada tahun 1994 silam, dia sempat menghadiri Muktamar NU di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

Namun setelahnya, roda ekonomi memaksanya absen dari beberapa gelaran Muktamar NU berikutnya. Barulah ketika Muktamar ke-34 NU diselenggarakan di Lampung, dia kembali berkesempatan hadir.

“Akhirnya saya pindah ke Musi Rawas Utara. Kebetulan, Muktamar ke-34 NU digelar di Lampung, dan saya pun berangkat ke sana,” kenangnya.

Dari situlah tekadnya semakin bulat untuk hadir di Muktamar ke-35 NU di Jombang. Bagi dia, momen ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga warisan cerita untuk generasi berikutnya.

“Nanti kan bisa diceritakan ke cucu, Insyaa Allah kalau saya diberi umur panjang,” imbuhnya penuh harap.

Modal Madu dan Minyak Angin
Meski memutuskan bersepeda, dia mengaku sudah hampir 35 tahun tidak menyentuh sepeda kayuh. Kesehariannya justru lebih akrab dengan sepeda motor.

“Tidak ada persiapan khusus untuk melakukan perjalanan ke Jombang,” akunya santai.

Agar stamina tetap terjaga sepanjang ribuan kilometer, dia hanya mengandalkan madu sebagai bekal energi. Sementara untuk mengatasi pegal-pegal yang tak terhindarkan, minyak angin menjadi senjata andalan.

“Kalau pegal-pegal, saya mengoleskan minyak angin itu sampai basah. Mungkin saya habis 7 sampai 10 botol yang besar,” ceritanya sambil tersenyum.

Ansor dan Banser Penjaga di Sepanjang Rute
Meski jarak tempuhnya ekstrem, Ndan Arif mengklaim tak menemui kendala berarti selama perjalanan. Semua berjalan lancar berkat dukungan penuh dari jajaran Ansor dan Banser di berbagai daerah yang dilaluinya.

“Di setiap rute yang saya lewati, kawan-kawan selalu menyambut dengan riang gembira, dengan senyum sapa yang membahagiakan buat saya,” ujar pria yang rupanya juga tercatat sebagai anggota Banser di kampung halamannya.

Urusan akomodasi pun praktis tak menjadi beban pikiran. Pengawalan estafet dari Ansor dan Banser membuatnya selalu punya tempat singgah yang aman.

“Kalau malam, saya biasanya beristirahat di pondok pesantren di kota yang saya lewati,” jelasnya.

Dukungan terbesar datang dari rumah. Istri dan keempat anaknya disebutnya sama sekali tidak keberatan dengan keputusannya ini, karena mereka pun bagian dari organisasi yang sama.

“Alhamdulillah, semua keluarga saya juga anggota Banser. Anak saya empat, Banser, istri saya juga. Jadi, mereka tidak keberatan dan ikhlas,” ungkapnya.

Di penghujung perbincangan, Ndan Arif menitipkan doa dan harapan besar. Dia berharap dirinya senantiasa istiqomah dalam berkhidmat kepada NU, sekaligus berharap Muktamar NU kali ini melahirkan Pemimpin yang mampu merangkul seluruh elemen umat.

“Saya berdoa kepada Allah. Ya Allah, saya yakin bahwa Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang ini mampu mengembangkan amanah sebagai tuan rumah,” pungkasnya.

Writer: Anang Panca Kurniawan

Editor: Dwi Lindawati
MSN

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular