Jumat 27 Maret 2026
spot_img
BerandaBlogKultum Ramadhan 1447H Masjid Namirah di Malam Ke 9 Bersama Ustadz Irwansyah...

Kultum Ramadhan 1447H Masjid Namirah di Malam Ke 9 Bersama Ustadz Irwansyah dari Persatuan Mubaligh Batam

namirahbatam.or.id

Kultum Tarawih bersama Ustadz Irwansyah di malam Ke 9 Ramadhan 1447 H Masjid Namirah

Alhamdulillah, Program Namirah di Malam ke 9 Ramadhan 1447H semakin maju berkat Rahmat Allah SWT dan dukungan seluruh Jajaran Pengurus Namirah, tutur Ketua Yayasan Namirah Bengkong Sadai, Bapak Wawan Purnawan, S.E., kami juga terus memakmurkan Program Tadarus Al Qur’an bersama Guru dan Santri TPQ Namirah tambahnya.

Kami dari DKM Namirah terus memantau langsung setiap Program dan mendukung sepenuh hati agar Program Namirah selama bulan Ramadhan 1447H, dapat berjalan dengan baik dengan mengharap Ridho Allah SWT, dan kami terus berkolaborasi dengan Pengurus Yayasan untuk mensukseskan Program Namirah, tutur Pak Muhammad Parso selaku Sekretaris DKM Namirah.

Kultum Ramadhan
Dalam kitab Bashâ’ir Dzawî al-Tamyîz fî Lathâif al-Kitâb al-‘Azîz, Imam Majduddin Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi (w. 817 H) membagi syukur dalam tiga kategori. Dia mengatakan: والشكر علي ثلاثة أضرب: شكر بالقلب، وهو تصور النعمة. شكر باللسان، وهو الثناء علي المنعم. وشكر بسائر الجوارح، وهو مكافأة النعمة بقدر استحقاقه “Syukur terdiri dari tiga tipe: (1) syukur dengan hati, yaitu pembayangan (atau penggambaran) nikmat (dalam hati), (2) syukur dengan lisan, yaitu pujian kepada pemberi nikmat, dan (3) syukur dengan anggota tubuh lainnya, yaitu membalas kenikmatan dengan kadar (atau derajat) yang pantas (didapatkan tubuh)” (Imam Majduddin Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi, Bashâ’ir Dzawî al-Tamyîz fî Lathâif al-Kitâb al-‘Azîz, Kairo: al-Majlis al-A’la li Syu’un al-Islamiyyah, 1996, juz 3, h. 334). Itu artinya, syukur harus dilatih dan dihadirkan. Dan puasa adalah aktivitas pelatihan yang tepat untuk itu. Seperti yang disebutkan di atas, dengan puasa, tanpa sadar kita mulai mengapresiasi hal-hal yang seharusnya diapresiasi, seperti air minum, makanan dan lain sebagainya, yang sebelumnya sering kita abaikan nilainya. Karena itu, kita harus mulai mengambil inisiatif untuk aktif bersyukur. Melatihnya dari yang paling ringan, bersyukur dengan hati dan lisan, kemudian meningkat ke arah bersyukur dengan seluruh anggota badan. Penjelasannya begini, bersyukur dengan hati adalah aktivitas visualisasi nikmat yang kita dapatkan. Ini penting, karena visualisasi nikmat adalah pintu masuk menuju syukur dalam wilayah praksis. Tentu, tidak mungkin kita mampu memvisualisasi seluruh nikmat Tuhan kepada kita, karena jumlahnya tak berhingga. Namun, aktivitas ini menjadi penting untuk menyadarkan kita dari perasaan serba malang dan susah. Contohnya, mungkin saja di satu sisi kita merasa susah dalam hal usaha, tapi di sisi lain kita sukses dalam hal kesehatan, dan seterusnya. Kemudian kita akan memasuki syukur dengan lisan, yaitu apresiasi dalam bentuk ucapan (pujian). Bisa dengan tahmîd, tasbîh, tahlîl dan lain sebagainya. Bersyukur dengan lisan berkaitan erat dengan bersyukur dengan hati. Sebab, setelah melakukan proses visualisasi nikmat, kita pasti tersadar bahwa pujian setinggi dan sebesar apapun tidak akan menyetarai segala nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Di samping kemampuan kita bersyukur juga berasal dari-Nya. Nabi Dawud ‘alaihissalam ketika mendengar firman Allah (QS. Saba’: 13): “Bekerjalah, wahai keluarga Daud, untuk bersyukur”, dia berkata: يا رب، كيف أشكرك، والشكر نعمة منك؟ قال: الآن شكرتني حين علمت أن النعمة مني “Wahai Tuhan, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu, padahal syukur adalah nikmat (pemberian)-Mu (juga)?” Allah berfirman: “Sekarang kau telah bersyukur kepada-Ku, karena kau telah tahu bahwa nikmat itu berasal dari-Ku” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Kairo: al-Faruq al-Haditshah li al-Thiba’aj wa al-Nasyr, 2000, juz 11, h. 267). Perasaan “tahu” atas ketidakmampuan mensyukuri seluruh nikmat Allah sangat penting dimiliki manusia. Karena dapat mendorong keistiqamahan dalam bersyukur. Orang yang mengetahui dan menyadari hal ini akan malu jika berhenti, atau akan terus berusaha untuk terhindar dari kelalaian bersyukur kepada-Nya. Karena ia tahu, seberapa sering dan banyak syukurnya, tidak mungkin menyetarai nikmat yang diterimanya. Untuk lebih mendalami soal ini, bisa dibaca di artikel NU Online lainnya, “Ketika Nabi Dawud Bingung Cara Bersyukur kepada Allah.” Berikutnya adalah syukur dengan anggota tubuh lainnya, yaitu membalas nikmat dengan perbuatan dan derajat yang pantas didapatkan tubuh. Maksudnya adalah, memenuhi hak-hak tubuh, baik jasmani maupun ruhani. Hak-hak jasmani seperti menjaga kesehatan, memenuhinya dengan nutrisi, gizi, makanan halal, dan lain sebagainya. Hak-hak ruhani seperti menjaga mata, telinga, lidah, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya dari hal-hal buruk, dan mengarahkannya untuk melihat, mendengar, melakukan, dan berjalan kepada kebaikan, pengetahuan dan keberkahan.

Editor
MSN

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular