

Namirahbatam.or.id
Kultum Ramadhan Malam ke 16 Bersama Imam Masjid Namirah Ustadz Musenni
Kewajiban Berbakti kepada Kedua Orang Tua.
Assalamu’alaikum wr wb.
Alhamdulillah segala Puji Milik Allah SWT, sholawat beriringkan salam semoga tercurah limpahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, semoga kita semua kelak mendapatkan syafaat Rasulullah SAW, aamiiin yaa Rabbal Alamin.
Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang paling utama bagi setiap anak. Orang tua kita adalah anugerah yang tidak ternilai, mereka adalah sebab kita diberi kehidupan, mereka juga membesarkan kita dengan kasih sayang.
Mari melalui kultum ramadhan malam ke 16 ini, kita renungkan tentang pentingnya berbakti kepada orang tua dan bagaimana kita dapat menunjukkan rasa syukur dan penghargaan kepada mereka. Semoga kita dapat menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan membuat orang tua kita bahagia.
Orang tua adalah sebab keberadaan kita di dunia. Mereka adalah perantara kasih sayang Allah kepada kita. Sejak dalam kandungan hingga dewasa, ibu dan ayah telah mencurahkan segala daya dan upaya untuk membesarkan kita.
Ibu mengandung dengan susah payah, melahirkan dengan nyawa sebagai taruhannya, dan menyusui serta mengasuh kita dengan penuh kasih. Ayah berjuang mencari nafkah, memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, dan menjaga kita dari mara bahaya.
Rasulullah saw bersabda:
وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ – أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِم
Artinya: Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ashr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Keridhaan Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua (Diriwayatkan oleh Tirmidzi, hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban dan Al-Hakim) [HR. Tirmidzi, nomor 1899; Ibnu Hibban, 2:172; Al-Hakim, 4:151-152. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].
Berbakti kepada orang tua mencakup banyak hal, seperti menaati perintah mereka selama tidak bertentangan dengan agama, bertutur kata lembut kepada mereka, mendoakan mereka, membantu kebutuhan mereka, dan bersikap sopan santun.
Dalam Islam, mengucapkan suara yang keras kepada orang tua sangat dilarang. Allah swt berfirman:
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Artinya: Maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (QS Al-Isra’: 23).
Bahkan mengucapkan kata “ah” pun dilarang, apalagi membentak atau menyakiti hati mereka. Dalam hal ini, Islam sangat memuliakan orang tua.
Dalam sebuah hadits shahih, ada kisah seorang sahabat yang datang menemui Rasulullah saw dan bertanya perihal kemuliaan orang tua.
Ia bertanya “Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”. Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Kemudian sahabat itu bertanya lagi, “Lalu siapa?”, Rasul menjawab: “Ibumu.” Sahabat itu bertanya lagi, “Lalu siapa?”, Rasul menjawab, “Ibumu.” Sahabat bertanya keempat kalinya, “Lalu siapa?”, Rasul pun menjawab, “Ayahmu.”
Lihatlah bagaimana Islam menempatkan ibu tiga kali lebih utama dibanding ayah, karena beratnya perjuangan seorang ibu.
Berbakti kepada orang tua adalah pintu surga yang terbuka lebar. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Sebab ridha mereka adalah ridha Allah, dan murka mereka adalah murka Allah.
Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita benar-benar berbakti kepada orang tua kita? Sudahkah kita menyenangkan hati mereka? Ataukah justru kita sering menyakiti mereka dengan kata dan perbuatan?, Ingatlah, amal-amal besar tidak akan diterima jika kita durhaka kepada orang tua. Na’udzubillāh. Jangan sampai kita menjadi bagian dari golongan yang celaka karena menyia-nyiakan orang tua kita. Bagi yang orang tuanya masih hidup, ini adalah kesempatan emas. Rawat, hormati, bahagiakan, dan doakan mereka setiap waktu.
Bagi yang orang tuanya telah wafat, jangan lupa untuk, mendoakan mereka, melaksanakan wasiat mereka, menjalin silaturahmi dengan kerabat dan sahabat mereka, dan bersedekah atas nama mereka.
Selama hidup setiap manusia tentunya ingin mengumpulkan amal kebaikan sebagai bekal di akhirat kelak. Dan berbagai amalan yang ada di dunia itu akan terputus, ketika seseorang itu sudah meninggal dunia.
Meski begitu, ada amalan yang pahalanya akan terus mengalir meski kita telah tiada. Sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara), yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa untuknya.
Hadits itu memberi peringatan sekaligus dorongan kepada kita yang masih hidup agar dapat memanfaatkan waktu hidup ini dengan sebaik mungkin untuk beribadah kepada Allah swt.
Juga mempersiapkan amalan yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah tiada.
Wassalamu’alaikum wr wb.
Editor
MSN


