Senin 26 Januari 2026
spot_img
BerandaBlogSELAMAT HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER 2025, BERSAMA KITA BISA TERUS TUMBUHKAN RASA...

SELAMAT HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER 2025, BERSAMA KITA BISA TERUS TUMBUHKAN RASA CINTA TANAH AIR DAN BANGSA

Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan

Selamat Hari Pahlawan 10 Nopember 2025

Namirahbatam.or.id
Berdasarkan Kepres No. 316 Tahun 1959, peringatan peristiwa 10 November 1945 sebagai Hari Pahlawan setiap tahun menjadi momen untuk memperkuat ingatan kolektif bangsa. Pahlawan menjadi teladan di berbagai tingkatan dan aktivitas masyarakat, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air.

Peringatan Hari Pahlawan merupakan sebuah momen penting dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Peringatan ini ditujukan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan Indonesia.

Generasi muda memiliki peran penting dalam memaknai dan mempertahankan kemerdekaan. Dengan memahami sejarah, menghormati nilai-nilai Pancasila, dan berpartisipasi aktif, mereka dapat memperkuat kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan.

Sikap memaknai kemerdekaan yang telah diperjuangkan bisa diwujudkan dengan belajar tekun dan giat. Sebab setelah para pejuang meraih kemerdekaan, akses pendidikan bagi masyarakat umum semakin dimudahkan.

Ada beberapa cara memaknai kemerdekaan yang patut dilakukan oleh para generasi muda, diantaranya menghormati orang yang lebih tua, saling toleransi dengan sesama, belajar dengan tekun, inovasi dan kreatif, serta jangan takut mencoba hal baru.

Peringatan Hari Pahlawan setiap tahunnya bertujuan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan bela negara dalam diri warga negara Indonesia, khususnya anak-anak para penerus bangsa. Makna Hari Pahlawan bagi generasi muda penting untuk dipahami sebagai panduan dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara.

Sejarah Hari Pahlawan
Meski telah 80 tahun Indonesia merdeka dari kolonial. Bukan berarti, kita berhenti berjuang untuk meraih kemerdekaan pada era sekarang. Momentum kemerdekaan harus dipahami dengan baik.

Semua elemen masyarakat Indonesia patut mensyukuri atas nikmat kemerdekaan saat ini. Tidak perlu susah payah bahkan bersipu darah untuk terbebas dari belenggu kolonial, seperti yang dilakukan para pejuang dan ulama terdahulu.

Deretan ulama NU seperti Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. A. Wahid Hasyim, KH. Masjkur, KH. Abdul Wahab Hasbullah dan lain-lain, mereka semua mempunyai peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan NKRI dari penjajahan.

Peran NU dalam Kemerdekaan RI
Sejarah mencatat bahwa, Nahdlatul Ulama (NU) menjadi bagian tidak terpisahkan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tahun 1926 merupakan tahun didirikannya NU, salah satu tujuannya yaitu untuk menjawab tantangan global imperialisme fisik konvensional yang dilakukan oleh penjajah di belahan dunia, termasuk Indonesia.

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama mempunyai cita-cita yang sangat besar dalam membentuk masyarakat Indonesia yang agamis, mengerjakan apa yang menjadi kemaslahatan, semangat perjuangan dan merdeka dari kolonial.

Pada saat itu, Hadratussyaikh selalu memperlihatkan sikap non kooperatif serta menolak kebijakan pemerintah kolonial. Atas sikap tersebut, berulang kali masuk keluar penjara. Hal ini memperlihatkan bahwa, semangat perjuangan untuk kebebasan atas perlakuan yang tidak berperikemanusiaan.

Ketika peristiwa 10 November pecah, Hadratussyaikh memimpin para ulama NU dalam menyampaikan fatwa berupa Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Resolusi Jihad menjadi bagian penting dari keberhasilan pertempuran 10 November yang paling dahsyat di Surabaya. Dicatat oleh Nur Khalik Ridwan dalam Ikhtisar Sejarah NU, tentara sekutu yang berjumlah 15 ribu melawan rakyat Indonesia dan kalangan pesantren. Mereka menggunakan senjata ala kadarnya, baik disita dari Jepang, bambu runcing dan disertai bacaan-bacaan hizib Nashr, hizib bahr dan lainnya.

Banyak peran lainnya yang diperlihatkan oleh Hadratussyaikh, diantaranya saat memberikan persetujuan terhadap usulan yang diajukan dalam persidangan BPUPKI dan PPKI. Selain itu, sejumlah pemimpin nasional juga sering meminta nasihat kepada Hadratussyaikh.

Kepemimpinan dan peran Hadratussyaikh dalam perjuangan kemerdekaan serta peran dalam masalah pendidikan telah diakui resmi oleh Negara dengan adanya anugrah gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1964.

Begitulah perjuangan ulama-ulama terdahulu. Mereka berjuang dengan fisik dan pengorbanan nyawa demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

 
Guru, Relevansi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
 

Tidak akan pernah ada pemimpin dunia tanpa seorang guru. Takkan pernah ada peradaban bila tidak ada guru didalamnya. Guru adalah pelita. Guru adalah pusaka. Guru bagaikan cahaya. Kita para muridnya yang mengambil sikap dan langkah “kanan” atau “kiri”. Tapi itu bukan salah mereka.

Mengutip kata mutiara dari Harun Al-Rasyid “Guru Adalah Pahlawan: Moderasi Islam Bagi Guru dan Tenaga Pendidikan”.

Menurutnya, ada empat fakta bahwa guru sebagai pahlawan.

Pertama, Guru merupakan pejuang ilmu. Adanya orang pandai dan cerdas di sebuah bangsa, tak lain dan tak bukan adalah jasa seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan dari yang paling dasar yaitu membaca, menulis dan berhitung.

Kedua, Tidak kenal menyerah. Seorang guru harus memiliki jiwa pendidik yang sabar dan telaten. Pada kenyataanya, tidak semua siswa langsung faham meyerap penjelasan guru. Ada juga siswa yang perlu pendampingan dan pendekatan khusus. Di sinilah dibutuhkan kreatifitas dan inovasi dari seorang guru. Apalagi mengahapi siswa generasi Z. 

Ketiga, Memanusiakan manusia. Kondisi siswa yang majemuk mengharuskan seorang guru tetap memperlakukan adil kepada semua siswa. Tidak membeda-bedakan apalagi membeda-bedakan.

Kempat, Tanpa mengenal waktu. Bagi seorang guru, mengajar tidak hanya ketika di sekolah. Guru merelakan berangkat di pagi hari buta dan pulang ketika matahari sudah tenggelam di barat. Sesampainya di rumahpun, guru masih mempersiapkan bahan ajar untuk esok hari. Tak jarang ketika di rumah masih mengerjakan adminitrasi yang sangat menyita waktu. Semuanya dikerjakan penuh ketulusan karena sebuah panggilan jiwa.

Editor
MSN

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular